You and Me Together Forever

Sanggar Motekar

Posted on: August 16, 2009

Lestarikan Seni Sunda dengan Bekal Semangat

230309-M57-Foto Ficer-Sanggar Motekar 1_resizeHanya sedikit orang yang saat ini peduli terhadap kesenian tradisional. Dan dari sedikit orang tersebut, hanya ada beberapa gelintir orang yang berusaha untuk melestarikannya.

Salah satu orang yang melestarikan budaya Sunda tersebut adalah Supriyatna. Dialah yang mendirikan Sanggar Motekar yang berlokasi di rumah Supriyatna yang beralamat di Jalan Kolonel Ahcmad Syam no 70, Jatinangor, Sumedang. Sanggar yang berdiri secara resmi pada tanggal 8 September 2002 tersebut sebenarnya dirintis oleh dua orang anaknya yaitu Nila Karyani dan Narti Suparti.

“Sebenarnya pekarangan rumah saya dari berpuluh-puluh tahun yang lalu sudah menjadi tempat beraktivitas kesenian anak-anak dan kaum ibu di antaranya dijadikan tempat untuk berlatih rampag sekar (paduan suara Sunda),”ujar Supriyatna.

Supriyatna menambahkan, Sanggar Motekar didirikan untuk mewadahi kegiatan-kegiatan yang telah ada sebelumnya.

Dilihat dari namanya yaitu motekar, Supriyatna mengungkapkan, nama ini berasal dari bahasa Sunda yang berarti kreatif. Sementara itu, Nila Karyani mengartikan motekar kepanjangan dari modal, tekad  pikeun mekar (modal, tekad untuk berkembang).

Supriyatna mengatakan bahwa sanggar tersebut memang didirikan benar-benar dengan modal semangat dan biaya pribadi. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang yang memberikan perhatian pada sanggar tersebut baik dari pemerintah maupun perorangan.

“Salah satu orang yang memberi perhatian adalah Rektor Unpad, Ganjar Kurnia. Beliau memberikan seperangkat komputer untuk memperlancar aktivitas di sanggar ini,”ujar Supriyatna.

Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan seni Sunda diadakan di sanggar tersebut seperti tari, drama, degung, penca, teater, longser, dan juga sastra. Kegiatan-kegiatan tersebut juga dilatih oleh pelatih-pelatih tersendiri yang berasal dari praktisi seniman tradisional dan seniman akademik.

“Semua pelatih yang ada di sini bisa dibilang sukarela untuk melatih mereka yang ingin belajar di Sanggar Motekar,”ujar Supriyatna.

Supriyatna mengatakan bahwa kesenian yang diajarkan di Sanggar Motekar bukanlah kesenian yang Sunda yang biasa. Ia mencontohkan seni tari yang dilatih di sanggar itu merupakan tari klasik seperti tari serimpi atau tari wayang.

Sanggar Motekar juga memiliki kegiatan yang rutin seperti melatih orang-orang yang akan mengikuti lomba salah satu yang dilakukan adalah melatih siswa-siswa Sekolah Dasar (SD) untuk mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat SD yang diselenggarakan rutin setahun sekali.

“Biasanya yang dilombakan adalah anggana sekar, rampag sekar, karawitan, baca puisi, dongeng, dan pidato. Semuanya menggunakan bahasa Sunda dan dilatih di Sanggar ini,”ujar Supriyatna yang juga aktif menulis sastra di beberapa majalah berbahasa Sunda itu.

Hasil didikan Sanggar Motekar pun tidak sia-sia. Beberapa anak mampu menjadi juara baik itu pada tingkat kecamatan, kabupaten, ataupun provinsi.

Walaupun telah berhasil mendidik banyak orang untuk menjadi juara, namun sanggar tersebut juga masih memiliki kendala dalam pengembangannya. Sementara itu, Sanggar Motekar juga hidup dari uang iuran murid-murid yang berlatih yaitu sebesar Rp 20.000,00 per bulannya dan uang pendaftaran sebesar Rp 25.000,00.

“Selain dana, kami juga belum memiliki tempat yang layak untuk berlatih khususnya berlatih degung dan tari. Saat ini murid-murid Sanggar Motekar masih berlatih di garasi mobil saya. Ya, kalau mau latihan, mobilnya dikeluarkan dulu,”ujar Supriyatna.

Supriyatna dan dua orang anaknya yang merintis Sanggar Motekar tersebut tidak memiliki cita-cita yang muluk-muluk terhadap 230309-M57-foto Ficer-Sanggar Motekar 2_resizesanggar tersebut. Ia ingin pemerintah peduli terhadap sanggar-sanggar seni Sunda salah satunya adalah Sanggar Motekar. Ia juga mengharapkan pemerintah punya kebijakan daerah yang lebih jelas tentang pembinaan dan pelestarian seni dan budaya Sunda.

“Kesenian Sunda ada hubungannnya dengan pembinaan kepribadian khususnya pada anak-anak. Mudah-mudahan anak-anak yang pernah berlatih di sanggar ini minimal bisa menjadi apresiator seni Sunda,”ujar Supriyatna.(DEWI RATNASARI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: