You and Me Together Forever

Menanti Cina

Posted on: August 15, 2009

by Sammaria Simanjuntak in (http://www.godisadirector.wordpress.com) on May 9, 2009

“Tolong datang casting pakai T-shirt putih dan celana jeans biru ya,” tutur kami pada seluruh calon pemeran Cina yang kami hubungi lewat telepon. Sementara calon Annisa dibebaskan memakai baju apa pun. Tampaknya sutradara agak trauma melihat foto-foto para calon pemeran Cina dalam busana yang berbeda selera dengan sutradara. Mulai dari foto pria yang bercelana kulit merah ketat, yang berkaos tanpa lengan jaring-jaring, sampai yang rambutnya menghabiskan hair spray lebih banyak dari Nia Daniati memenuhi inbox cinta@sembilanmatahari.com. Sutradara tidak ingin penampilan mempengaruhi penilaian sutradara kepada kemampuan acting mereka.

Selain masalah selera berbusana, mencari Cina berlogat Batak di Bandung ternyata sulit. Kesuksesan Naga Bonar telah mengaburkan persepsi orang kebanyakan tentang logat Batak yang tidak karikatural. Naga Bonar-Naga Bonar pun silih berganti gagal meyakinkan sutradara kalau mereka bisa memerankan tokoh Cina yang besar di Tapanuli dan sempat bersekolah empat tahun di Singapur ini. Rata-rata logat calon pemeran Cina terdengar terlalu Jakarta dan bahasa Inggrisnya terdengar terlalu Amerika.

Karenanya ketika seorang cowo Cina asal Pontianak yang pernah tinggal di Singapur selama setahun memasuki ruang casting, sutradara langsung sumringah. Walaupun Sunny Soon belum punya pengalaman acting dan umurnya ternyata sudah 23 tahun, dia tetap dipercaya memerankan Cina yang berumur 18 tahun. Sebenarnya umur Sunny yang sudah dewasa di satu sisi menguntungkan. Bayangkan jika karakter Cina diperankan cowo yang beneran 18 tahun! Cowo pada usia puber belum tentu bisa menyikapi secara dewasa tuntutan skenario untuk melakukan adegan romantis seperti adegan ciuman.

Karakter Sunny ternyata sangat berbeda jauh dari Cina. Sunny sudah dinodai kerasnya berjuang hidup sendirian di Jakarta. Film ini membutuhkan karakter yang masih percaya diri, naif, dan ceria karena belum pernah merasakan kegagalan. Sunny harus berusaha menghilangkan kepahitan hatinya, berdamai dengan diri sendiri, dan berusaha kembali ke saat-saat di mana dia masih murni dan penuh harapan tanpa kegetiran metropolitan.

Berbeda dari Cina, Sunny adalah karakter lembut dan pemalu yang tidak menatap mata orang ketika berbicara, tidak suka mengintimidasi, dan tidak suka berbicara dengan suara keras. Saking sulitnya menatap mata lawan bicara, Sunny diharuskan berdialog selama beberapa hari sambil menatap dirinya sendiri di depan cermin. Sunny pun berguru kepada Yuni, seorang native speaker Batak, yang mengajarinya bagaimana ngomong teriak-teriak tanpa bermaksud membentak. Di akhir masa karantina, berkat keteguhan hati dan kerja kerasnya, Sunny telah bertransformasi menjadi Cina, si anak 18 tahun dari Tarutung yang siap melawan dunia lengkap dengan logat Batak dan Singlish-nya.

Karakter alami Sunny yang sangat ringan tangan dan tulus telah mempesona banyak orang tidak hanya di produksi cin(T)a. Saya sempat curi-curi menyebarkan trailer cin(T)a sebelum diperbolehkan produser. Banyak sekali respons positif pada pemeran Cina. Sangkin banyaknya, saya baru tersadar kalau Sunny ini ganteng juga. Tapi kerja keras dan konsistensinya seperti dalam cin(T)a-lah yang saya yakini akan menjadikannya salah satu aktor paling menjanjikan di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: