You and Me Together Forever

karena kita adalah tuhan..

Posted on: August 15, 2009

by Patra Aditia  in (http://www.godisadirector.wordpress.com) on May 4, 2009

Manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang realistis dan mendesak. Keadaan konkret dan mendesak tersebut menstimulus seseorang untuk meresponsnya dengan cepat dan konkret pula, dimana setiap orang akan merespons kondisi tersebut dengan output dan input berbeda. Seorang seniman misalnya, keadaan tersebut menjadi stimulus kreatif yang merangsang pilihan tematik dan estetik dalam membuat sebuah karya. Dalam skala yang lebih besar, kegelisahan para seniman ini berkembang menjadi sebuah gerakan masal, contohnya adalah gerakan Pop Art di Amerika. Gerakan ini dengan vokal menyuarakan keberpihakannya pada budaya massal sebagai reaksi artistik dan kultural terhadap fenomena seni rupa yang menyuarakan kehebatan atau kebenaran seni rupa yang mengandalkan aura seperti pada Abstract Expressionism.

Di Indonesia, hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan budaya direspons secara komunal oleh nenek moyang kita sehingga menghasilkan sesuatu yang mencerminkan karakter kalangan penduduk tertentu. Motif batik yang dominan dengan stilasi floral atau makanan tradisional yang dibungkus dedaunan. Di Jawa Barat, lagu ”Bubuy Bulan” merupakan ekspresi artistik orang Sunda terhadap keindahan alam serta kemolekan mojang di tanah Pasundan. Produk”kegelisahan” nusantara ini tidak melulu sebuah artefak, bisa juga merupakan mitos, nasehat, legenda, peribahasa, atau semacamnya. Konon, istilah memohon muncul karena orang Indonesia dulu tinggal di atas pohon, sehingga ketika meminta atau memohon berarti kita mendatangi rumah orang lain yang berada di atas pohon.

Lebih jauh lagi, di kebudayaan nusantara, alam mampu menghadirkan kuasa-kuasa Ilahiah di setiap eksistensinya. Referensi sejarah kerap menyebutkan bahwa periode awal kehidupan di Nusantara, nenek moyang kita menganut animisme dan dinamisme. Nenek moyang kita mengimani bahwa alam dan manusia diciptakan dan digerakkan oleh roh leluhur dan kekuatan-kekuatan gaib yang hinggap di tempat-tempat tertentu. Pohon-pohon besar adalah salah satu tempat yang diyakini sebagai rumah tempat bersemayam roh leluhur itu. Dari pohon inilah alam dan perilaku manusia dimonitor. Dan ketika peradaban berkembang, Tuhan tidak lagi bersemayan di pohon-pohon besar di tengah hutan. Tuhan bermigrasi ke pura, mesjid, gereja, dan bangunan peribadatan lain.

Ketika kita berbicara karya dan kreator, secara bertahap kita akan dihadapkan pada sesuatu yang secara gradual bersifat lebih tinggi. Artefak peradaban adalah sebuah potret-diri pembuatnya, sebuah reprsentasi budaya. Karya-karya tersebut akan membawa kita pada suatu daya yang tak tampak, terasa namun tak bisa disentuh. Kita menemukan semacam dialog spiritual antara lingkungan dan diri kita sendiri, keharuan dalam proses mengapresiasi dan berkreasi. Tuhan berada dalam diri kita, sebagai bagian dari keseharian, dalam jarak yang dialogis, bukan dalam jarak yang mustahil ditempuh.

Apapun bentuknya, sebuah karya merupakan bentuk kegelisahan dan perenungan sang pencipta. Tuhan mungkin tidak pernah digambarkan gelisah atau merenung, tapi percayalah, siapapun butuh berpikir matang ketika memutuskan membuat makhluk yang memusingkan seperti manusia.

Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: