You and Me Together Forever

Ide dan Keterbatasan: Kesempatan dalam Kesempitan

Posted on: August 15, 2009

by Rani Widya*  in (http://www.godisadirector.wordpress.com) on May 3, 2009

Pria itu, Bakti namanya, berjalan di atas jembatan kereta api yang membentang di atas sebuah lembah. Sepasang sandal jepitnya yang melangkah tergesa, nampak abai dengan hamparan sawah puluhan meter di bawahnya, seolah menegaskan kegundahan. Dilema yang berkecamuk. Dan sesuatu yang ingin, atau harus, diseberangi.

Penggalan adegan di atas berasal dari film dokumentar Stand van de Maan (Shape of the Moon, 2004) karya sutradara blasteran Belanda-Indonesia Leonard Retel Helmrich. Sebuah adegan stunt tanpa stuntman. Siapa menyangka adegan itu diambil dengan semacam jimmy jib mini yang terbuat dari bambu?

Produksi film identik dengan biaya selangit. Jangankan bicara Amerika, di mana produksi film independen macam Blair Witch Project saja menghabiskan 35 ribu dolar. Di Indonesia sekalipun, biaya produksi film sudah menyentuh angka 10 digit. Pertanyaan retorik “Apakah biaya produksi yang tinggi berkorelasi langsung dengan kualitas?” rasanya sudah tidak perlu lagi dibahas. Kenyataannya, tidak semua film berbiaya “em-eman” itu berhasil menyampaikan sesuatu yang spektakuler. Kita jadi bertanya-tanya (dan tidak retorik), apakah hujan buatan yang muncul secara intensif itu memang membutuhkan biaya 6 milyar?

Di lain pihak, keterbatasan, apapun bentuknya, terkadang membukakan celah untuk sesuatu yang unlimited, tanpa batas. Helmrich “hanya” menggunakan kamera miniDV untuk filmnya. Ia mendesain steadywings, alat pemegang kamera yang dengan bercanda disebutnya doa-cam karena alat tersebut digunakan dengan posisi dua tangan di depan badan seperti orang berdoa. Hasilnya adalah gambar-gambar yang spektakuler, intim sekaligus naratif, yang mungkin tidak akan bisa dihasilkan dengan kamera 35mm sekalipun.

Keterbatasan mungkin membuat sebuah film tidak dapat diproduksi dengan cara yang ideal, tapi tidak berarti kemudian film tersebut tidak dapat diproduksi dengan cara yang benar. Seorang pengamat film senior mengatakan bahwa 50% dari sebuah film diproduksi di atas meja. Artinya, perencanaan yang baik. Konsep yang kuat. Percayalah, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Ide menjadi penting ketika sumber daya hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Baiklah, ide selalu penting berapapun jumlah sumber daya yang tersedia. Tapi ketika keuangan cekak, kru-kru yang berdaya juang tinggi tetap harus makan nasi, dan cuaca tidak selalu bisa diakali (karena pawang hujan pun harus bayar), apalah yang tersisa selain ide. Dan kreativitas. Konon keduanya memang kakak-beradik. So, what’s your bright idea?

*penggemar film dan blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: