You and Me Together Forever

Cin(T)a; Who Are YOU, God, What Are YOU, God

Posted on: August 15, 2009

http://restlessangel.wordpress.com/2009/08/06/cinta-who-are-you-god-what-are-you-god/

Hari Rabu tanggal 5 Agustus, saya berkesempatan mendapat tiket gratis (catet, gratis ya booo) untuk premiere film cin(T)a di Jogja NETPAC Asian Film Festival. Ini film udah saya incer sejak kapan, sedari saya membaca promosinya yang cukup gencar di internet. Minat saya makin terbetot sewaktu saya iseng ikutan LA-Lights Indie Movie Workshop di Jogja tanggal 11 Juli lalu. Di workshop tersebut, sang sutradara, Sammaria Simanjuntak mempresentasikan cin(T)a plus mempertontonkan trailernya.

Jogja mendapat kehormatan untuk memutar premiere cin(T)a di Indonesia setelah sebelumnya ‘hanya’ malang melintang di negeri orang, dari festival satu ke festival lainnya. Walhasil, gedung pemutaran film di Taman Budaya Yogya penuh sesak oleh anak-anak muda yang penasaran dengan filmnya. Tapi hei, saya sempat melihat kehadiran Mudji Sutrisno, budayawan yang cukup saya kagumi itu.

Selama kurang lebih satu jam (lebih-lebihnya saya ndak tahu, karena agak molor dari jadwal jam 15.00) seisi ruang bagai terhipnotis (lebaaay, tapi biar) menikmati karya anak bangsa. Kadangkala gemuruh suara tawa ngakak jika ada dialog yang dirasa lucu. Tapi selebihnya, penonton cukup serius menyimak filmnya.

Film cin(T)a sendiri, bisa dikategorikan film indie. Dibuat dengan budget, personel, dan peralatan terbatas. Maklum, para personelnya adalah alumni LA-Lights Indie Movie Workshop tahun 2007. Topiknya sendiri bisa dikatakan cukup controversial untuk kalangan masyarakat Indonesia. Tagline Cina and Annisa love God and God loves them both, but Cina and Annisa cannot love each other; because they call God by different names, sudah bisa diduga isi film ini tentang apa.

Secara keseluruhan, film ini istimewa bagi saya di tengah minimnya film Indonesia layar lebar yang berkualitas. Topik yang catchy alias megang banget, penggarapan yang cukup oke (untuk indie lho, dibandingkan dengan major label), dialog yang bernas, hanya kalau ada catatan adalah acting pemainnya. Sunny Soon bermain cukup meyakinkan sebagai Cina, mahasiswa pintar dari Tarutung. Dia bisa membawakan karakter Cina yang cerdas, sekaligus kocak dan idealis. Tetapi untuk Saira Jihan yang memerankan Annisa, hmmm…kok kurang sreg ya. Karakter Annisa yang melankolis dan penyendiri rasanya kurang mantap.

Yang paling menarik bagi saya, adalah bagaimana topik kisah cinta beda agama dituangkan lewat dialog-dialog yang cukup dalam. Dialog antara Cina dan Annisa cukup banyak menyentil sikap keberagamaan antara dua agama Abraham, Kristen dan Islam. Bagaimana mereka mengkomunikasikan prasangka-prasangka agama maupun etnik di antara keduanya, bagaimana mereka memandang Tuhan, dan lain-lain. Angkat jempol bagi tim penulis skenarionya.

Misal, mereka dengan kritis mempertanyakan peran Tuhan dalam kehidupan, sekedar arsitek -pencipta- atau sutradara -ikut menentukan plot-. Mereka juga mempertanyakan sikap masyarakat yang mendua, antara memuja Tuhan tapi di sisi lain juga seperti menafikan perbedaan. Padahal, yang menciptakan perbedaan ya Tuhan juga. Jika Ia ingin hanya disembah dengan satu cara, dipanggil dengan satu nama, mengapa Ia harus menciptakan begitu banyak perbedaan.

Ada satu hal yang menarik, pernyataan Annisa tentang selebritas, pemujaan, atheisme dan hubungannya dengan Tuhan. Di mata Annisa, Tuhan itu sangat memahami seorang seleb, karena itu ia menciptakan atheis. Tuhan sangat menyukai untuk dipuja dan dieluk-elukan, tapi ada kalanya ia capek dengan pemujaan yang berlebihan, persis seperti yang dialami seleb. Ada kalanya ia (Ia) ingin beristirahat. Pernyataan yang tidak biasa diungkapkan secara ‘vulgar’ di ranah publik. Apalagi di tengah mayoritas masyarakat yang masih sangat memuja simbol-simbol agama. Karena itulah, bagi saya, kekuatan film ini ada pada dialognya.

Mengenai ending? Jika penonton berharap adanya solusi/happy ending bagi Cina dan Annisa yang berbeda agama, sebaiknya simpan saja harapan itu. Bagi saya, film ini tidak bercerita tentang penyelesaian masalah, ia bertutur secara deskriptif apa yang ada dalam masyarakat.

Menariknya, di sela-sela film, diselipkan juga testimony dari mereka-mereka (beneran, bukan fiksi/artis) yang menjalin hubungan beda agama hingga pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: